Beranda > Teknologi Informasi > Radio dan Wireless

Radio dan Wireless

Sejarah perkembangan teknologi jaringan wireless hingga saat ini dibagi menjadi 3 generasi yang
masing-masing disebut generasi 1 (1G), generasi 2 (2G), dan generasi 3 (3G). Generasi 1 dimulai
pada akhir tahun 1970-an di Amerika (di Eropa pada awal tahun 1980-an). Advanced Mobile
Phone Service (AMPS) pertama kali diperkenalkan di New Jersey dan Chicago pada tahun 1978.
AMPS merupakan sistem telepon wireless analog yang, untuk ukuran waktu itu, cukup sukses di
Amerika. AMPS berhasil memberikan pelayanan telepon bergerak yang dapat menjangkau
sebagian besar daratan Amerika Serikat. Namun AMPS masih banyak memiliki kelemahan, yaitu
antara lain dalam hal mobilitas pengguna yang sangat terbatas karena belum adanya kemampuan
handover yang menyebabkan pembicaraan dari pengguna akan segera terputus apabila dia berada
di luar jangkauan area, efisiensi yang sangat kecil karena keterbatasan kapasitas spektrum yang
menyebabkan hanya sedikit pengguna saja yang dapat berbicara dalam waktu bersamaan, dan
sistem ini tidak dapat dioptimasi lebih lanjut karena keterbatasan kemampuan kompresi dan
coding data. Selain dari hal-hal tersebut, sistem ini harus mempergunakan perangkat dan
peralatan yang berat dan tidak praktis serta masih sangat mahal untuk ukuran waktu itu. Generasi-
1 telepon wireless untuk kawasan Eropa ditandai dengan diluncurkannya paling tidak 9 standar
sistem analog di awal tahun 1980-an, seperti Nordic Mobile Telephony (NMT) di Skandinavia,
Total Access Communications System (TACS) di Inggris, C450 di Jerman, dll., dimana satu sama
lain tidak saling berinterkoneksi.  Banyaknya standar jaringan yang muncul menjadikan
kemampuan jelajah dari masing-masing jaringan yang sangat terbatas disamping efisiensi dari
sistem sendiri yang masih sangat kecil.
Generasi-2 (2G) telepon wireless dipelopori dari kawasan Eropa yang diawali pada kebutuhan
bersama terhadap satu sistem jaringan baru yang dapat menjadi standar jaringan yang berlaku dan
dapat diterapkan di seluruh kawasan Eropa.  Dalam sistem baru juga harus terdapat kemampuan
yang dapat mengantisipasi mobilitas pengguna serta kemampuan melayani lebih banyak
pengguna untuk menampung penambahan jumlah subscriber baru. Karena hal ini tidak dapat
dilakukan dengan mempertahankan sistem analog, maka kemudian diputuskan untuk merombak
sistem dan menggantinya dengan sistem digital. Standar baru diperkenalkan dengan nama Global
Standard for Mobile Communications (GSM). GSM pada awalnya adalah kepanjangan dari
Groupe Speciale Mobile, sebuah badan gabungan dari para ahli yang melakukan studi bersama
untuk menciptakan standar GSM tersebut. Generasi-2 (2G) di Amerika Serikat ditandai dengan
diluncurkannya standar jaringan baru yang juga bersistem digital yang diberi nama Digital AMPS
(D-AMPS) (disebut juga TDMA – Time Division Multiple Access). Sistem digital lainnya yang
muncul di Amerika adalah IS-95 atau cdma-One, yang merupakan sistem digital yang berbasis
teknologi CDMA (Code Division Multiple Access) dan diperkenalkan oleh Qualcomm pada
pertengahan 1990-an. Untuk negara-negara di benua Asia, pertama kali mereka mengadopsi
sistem telepon wireless digital dengan menerapkan teknologi jaringan GSM. Khusus di negara
Jepang, berkembang sistem Personal Digital Cellular (PDC) yang mereka kembangkan sendiri
dan hanya berlaku di negeri itu. Jepang sendiri hingga saat ini telah mengembangkan sendiri
sistem digital selulernya hingga meninggalkan negara-negara di kawasan lainnya ditandai dengan
kemajuan layanan dan terus bertambahnya jumlah subscriber di jaringan mereka, namun
demikian sistem yang mereka kembangkan tetaplah sistem yang eksklusif dan hanya berlaku di
Jepang saja.
Diperkenalkannya sistem telepon wireless/ seluler digital memberikan beberapa kelebihan, yaitu
antara lain suara yang dihasilkan menjadi lebih jernih, efisiensi spektrum/ frekuensi yang menjadi
meningkat, serta kemampuan optimasi sistem yang ditunjukkan dengan kemampuan kompresi
dan coding data digital. Handset yang diperlukan untuk sistem ini juga menjadi sangat simpel,
kecil, dan ringan, karena digunakannya chip digital untuk SIM (subscriber identification module).
Teknologi chip digital juga memungkinkan penambahan fitur-fitur baru sebagai layanan
tambahan, seperti voice mail, call waiting, dan sort message service (SMS). SMS sendiri
merupakan fitur GSM yang paling poluler hingga saat ini. Hingga bulan September 2001,
diketahui penggunaan SMS di dunia hingga 23 milyar kiriman pesan SMS per bulan
(www.gsmworld.com). SMS sendiri merupakan paket pesan singkat sebesar maksimal 160 byte.
Hingga pertengahan tahun 2000 terhitung jumlah subscriber telepon wireless (telepon seluler)
digital 2G terbanyak yang masih dikuasai oleh jaringan GSM (lihat Tabel 1). Jumlah subscriber
GSM bertambah 10 juta tiap bulannya dan tersebar di Eropa, Asia, Australia dan sebagian
Amerika Utara. Pada tahun 2000 GSM mulai mengembangkan pasar dan infrastruktur di Amerika
Selatan (www.gsmworld.com).

Teknologi wireless generasi-3 (3G) hingga saat ini dikembangkan oleh suatu kelompok yang
diakui dan merupakan kumpulan para ahli dan pelaku bisnis yang berkompeten dalam bidang
teknologi wireless di dunia. Kesepakatan 3G tertuang dalam International Mobile
Telecommunications 2000 (IMT 2000) dan antara lain memutuskan bahwa standar 3G akan
bercabang menjadi 3 standar sistem yang akan diberlakukan di dunia, yaitu Enhanced Datarates
for GSM Evolution (EDGE), Wideband-CDMA (WCDMA), dan CDMA2000.
Teknologi 3G diperkenalkan pada awalnya adalah untuk tujuan sebagai berikut:
a. menambah efisiensi dan kapasitas jaringan
b. menambah kemampuan jelajah (roaming)
c. untuk mencapai kecepatan transfer data yang lebih tinggi
d. peningkatan kualitas layanan (Quality of Service – QOS)
e. mendukung kebutuhan internet bergerak (mobile internet)

2. Sistem Wireless Saat Ini dan Masa Depan
Pada saat ini telah berlaku 4 sistem digital wireless 2G di dunia, yaitu TDMA, GSM, PDC, dan
cdma-One. Para ahli berdiskusi untuk merumuskan migrasi yang “smooth” keempat sistem ini
untuk menuju ke teknologi generasi-3. Sistem lama pada dasarnya tidak akan dihapus atau
dibuang begitu saja, walaupun pengembangan sistem baru adalah berarti pembangunan
infrastruktur yang juga harus baru. Migrasi yang “smooth” (smooth evolution) ini dirumuskan
oleh para ahli sebagaimana rekomendasi yang tertuang dalam International Mobile Telecommu-
nications 2000 (IMT 2000) yang dikeluarkan oleh International Telecommunications Union
(ITU). Pengembangan 3G dilakukan dengan pengembangan teknologi antara yaitu teknologi
generasi-2,5 (2,5G) yang pada dasarnya adalah pengenalan teknologi paket data. Karena
perbedaan teknologi dan penggunaan frekuensi pada keempat teknologi 2G maka jalur menuju ke
generasi-3 bagi merekapun akan berbeda seperti tergambar dalam gambar 1.
Keempat proses evolusi teknologi 2G menuju teknologi 3G diterangkan secara ringkas berikut
ini.

2.1. Evolusi GSM
Seperti halnya teknologi 2G lainnya teknologi GSM memiliki karakteristik yang dapat menangani
suara secara efisien namun memiliki keterbatasan dalam kemampuan transfer data aplikasi
internet. Komunikasi data pada GSM dijalin melalui mekanisme circuit-switched connection
yang berarti hubungan diawali dengan dial dari pengguna dan diakhiri dengan pemutusan
hubungan. Apabila pengguna ingin mengakses data lagi maka mereka harus melakukan dial lagi.
Hal inilah yang menjadikan keterbatasan GSM dimana pengguna akan selalu dibebani biaya
koneksi selama waktu mereka membuka mengakses data. Untuk memecahkan masalah tersebut
maka dibutuhkan teknologi paket data untuk GSM menggunakan packet-switched connection.
Pada awal tahun 2000 muncul teknologi High Speed Circuit Switched Data (HSCSD). Teknologi
ini memiliki mekanisme transfer data circuit-switched yang mirip dengan GSM, namun memiliki
kelebihan dalam kemampuan untuk menggunakan lebih dari satu timeslot dari 8 timeslot pada
paket data GSM untuk satu kali koneksi (GSM hanya dapat menggunakan satu timeslot untuk
satu koneksi). Kemampuan ini menjadikan HSCSD dapat mencapai kecepatan transfer data
hingga 57,6 kbps.
Paket data untuk GSM diperkenalkan pertama kali dengan diluncurkannya General Packet Radio
Service (GPRS). GPRS merupakan teknologi overlay yang disisipkan di atas jaringan GSM untuk
menangani komunikasi data pada jaringan. Dengan kata lain dengan menggunakan handset
GPRS, komunikasi data tetap berlangsung di atas jaringan GSM dengan GSM masih menangani
komunikasi suara dan transfer data ditangani oleh GPRS. Pengembangan teknologi GPRS di atas
GSM dapat dilakukan secara  efektif tanpa menghilangkan infrastruktur lama, yaitu dengan
penambahan beberapa hardware dan upgrade software baru pada terminal atau station dan server
GSM. Kecepatan transfer data GPRS dapat mencapai hingga 160 kbps. Teknologi GPRS
memiliki 3 fitur keunggulan, yaitu:
a. Allways Online. GPRS menghilangkan mekanisme dial kepada pengguna pada saat ingin
mengakses data, sehingga dikatakan GPRS selalu online karena transfer data dikirim berupa
paket dan tidak bergantung pada waktu koneksi.
b. An Upgrade to existing networks (GSM dan TDMA). Adopsi sistem GPRS tidak perlu
menghilangkan sistem lama karena GPRS dijalankan di atas infrastruktur yang telah ada.
c. An Integral part of EDGE and WCDMA. GPRS merupakan inti dari mekanisme pengiriman
paket data untuk teknologi 3G selanjutnya.
EDGE dan WCDMA merupakan langkah selanjutnya dari migrasi GSM setelah diterapkannya
GPRS. EDGE merupakan migrasi GSM yang paling efisien untuk menuju ke generasi-3. EDGE
tidak mengubah dan mengganti infrastruktur lama karena EDGE tetap menggunakan mekanisme
transfer data GSM/GPRS. EDGE dikonsentrasikan pada pengembangan kapasitas dan efisiensi
transfer data  dengan memperkenalkan skema coding pada data yang dapat menyebabkan setiap
timeslot data mentransfer data lebih banyak dan menghasilkan kecepatan transfer data yang
meningkat pula secara signifikan (hingga 384 kbps). [1]
WCDMA atau Wideband-CDMA (di Eropa disebut UMTS, Universal Mobile
Telecommunications System) merupakan sistem yang memiliki interface radio yang sama sekali
baru dan berbeda dengan GSM/ GPRS. WCDMA berbasis pada teknologi CDMA (Code Division
Multiple Access) yang menggunakan code untuk memisahkan pengguna dalam satu frame/ paket
data. Walaupun berbeda dengan sistem GSM/ GPRS, handset WCDMA pertama yang
diluncurkan masih dapat digunakan pada area GSM/ GPRS. Hal ini untuk menghindari
pembangunan infrastruktur yang sama sekali baru yang sangat memakan biaya. Untuk itu
investasi WCDMA tetap akan menggunakan jaringan GSM/ GPRS atau EDGE sebagai jaringan
pendukung terutama untuk menjangkau area pedesaan dan pedalaman. Teknologi CDMA yang
menggunakan code untuk memisahkan pengguna akan memperbesar efisiensi dan kapasitas kanal
dalam menampung pengguna yang mengakibatkan peningkatan kecepatan transfer data hingga
400 kbps. [1]
2.2. Evolusi TDMA
Dalam TDMA (Time Division Multiple Access), teknologi paket data telah diperkenalkan dalam
bentuk Cellular Digital Packet Data (CDPD) pada tahun 1992. Teknologi CDPD memberi
kemampuan kepada D-AMPS/ AMPS untuk komunikasi suara maupun data menggunakan kanal
jaringan. Mirip dengan GPRS, sebagai data paket pada jaringan, CDPD dapat menjalankan
aplikasi Internet Protocol (IP) dan dapat bertindak sebagai ekstensi internet di mana pengguna
dapat merasa online terus menerus. Walaupun demikian, pada awal diperkenalkannya, belum ada
aplikasi mobile internet yang dapat menggunakan teknologi CDPD. Baru pada Mei 2000 AT&T
memperkenalkan layanan PocketNet yang merupakan aplikasi mobile internet HDML (mirip
WAP) yang menggunakan CDPD. Handset yang mendukung layanan ini kemudian diciptakan
dengan kemampuan transfer data suara serta mobile internet.
Migrasi TDMA/ CDPD ke teknologi generasi-3 (3G) mengarah kepada teknologi EDGE. GSM
dan TDMA adalah dua teknologi jaringan wireless yang memiliki kesamaan karena keduanya
menggunakan teknologi TDMA. Pengguna pada kedua jaringan dapat saling berinterkoneksi.
Untuk itu kemudian dibutuhkan 2 versi teknologi EDGE, yaitu EDGE yang menggunakan
struktur kanal TDMA dan EDGE yang menggunakan kanal GSM. Meskipun demikian kedua
versi EDGE tersebut masih saling compatible dan tetap dapat saling berhubungan. [1]
2.3. Evolusi cdma-One
Karakter migrasi teknologi cdma-One ke teknologi generasi-3 mirip dengan migrasi GSM, yang
menginginkan kecepatan transfer data suara dalam mekanisme circuit-switched yang lebih tinggi,
jaringan yang selalu online, serta adopsi teknologi paket data. Cdma-One akan bermigrasi ke
teknologi generasi-3 menuju ke CDMA2000. Teknologi paket data pada CDMA 2000 berbasis
pada Mobile IP di mana paket data yang berjalan di atas jaringan akan membawa IP address yang
merupakan ekstensi untuk mobile internet. Visi utama dari CDMA2000 3G adalah untuk
menerapkan arsitektur jaringan yang berbasis pada Internet Engineering Task Force (IETF) IP
(atau disebut juga Mobile IP). Dengan mobile IP akses internet menggunakan perangkat seluler
akan menjadi sangat fleksibel. Kita dapat memilih untuk menggunakan static atau dynamic IP-
address tergantung kepada jaringan di mana dia berada. Dengan Mobile IP  karena dengan
menggunakan W-LAN cards dan CDMA2000 radio card (pada laptop) kita dapat terus
mengakses internet menggunakan IP address yang sama ketika kita bergerak baik ketika berada
dalam jaringan CDMA2000 maupun pada jaringan lain. Jaringan lain yang kita masuki ketika kita
keluar dari jaringan asal akan dapat tetap menggunakan IP address lama yang sebelumnya telah
kita pergunakan.
2.4. Evolusi PDC
Kemajuan teknologi dan layanan aplikasi wireless di Jepang telah diakui dan meninggalkan
negara-negara di kawasan lainnya. NTT DoCoMo (Nippon Telephone & Telegraph DoCoMo)
dan beberapa perusahaan telekomunikasi Jepang lainnya saat ini telah bersiap dengan teknologi
3G dan ingin segera memperkenalkan teknologi layanan multimedia kepada para pelanggan/
subscriber di jaringan wireless mereka. Namun demikian, belajar dari pengalaman penerapan
sistem PDC di masa lalu dimana mereka terisolasi dari negara-negara lainnya, mereka tidak
mengharapkan situasi demikian terulang lagi. Untuk itu penerapan teknologi 3G di negara mereka
dilakukan dengan melibatkan partner telekomunikasi dari kawasan negara lain seperti European
Telecommunications Standards Institue (ETSI) dan Association of Radio In Business (ARIB). 3G
di negara mereka kemudian disepakati diterapkan berdasarkan standar 3G internasional seperti
yang disepakati forum 3GPP (Third Generation Partnership Project). Sebelumnya, NTT
DoCoMo telah memperkenalkan teknologi paket data pada PDC, disebut P-PDC, yang dijalankan
pada jaringan I-Mode mereka. Setelah itu, terjadi migrasi PDC ke teknologi generasi-3 yang
berlangsung sangat cepat hingga meninggalkan negara-negara lainnya. Operator jaringan wireless
di Jepang akhirnya memutuskan untuk mengadopsi teknologi dan layanan WCDMA yang telah
diluncurkan pada tahun 2001.
3. Internet Bergerak
Internet bergerak atau Mobile Internet, adalah hasil konvergensi dari teknologi fixed-internet dan
teknologi telepon bergerak (mobile telephony). Perkembangan teknologi internet bergerak
berjalan seiring dengan kemajuan teknologi transfer data di atas jaringan wireless. Perusahaan
wireless Ericsson memperkirakan akan terdapat sekitar 600 juta pengguna internet bergerak
hingga pada tahun 2004 nanti. Pada saatnya akan sulit untuk membedakan fixed-internet dan
mobile internet, karena nantinya akan banyak aplikasi yang mendukung keduanya.
Perusahaan infrastruktur seperti Ericsson, Nokia, Motorola, dll., maupun operator wireless
terkemuka seperti Vodafone, Sonera, dan AT&T, telah bersepakat dengan membentuk forum
untuk mengantisipasi perkembangan teknologi 3G. Mereka bersepakat untuk membuat standar
untuk memproduksi teknologi dan layanan yang mendukung perkembangan 3G. Produk-produk
yang telah dihasilkan antara lain WAP (WAP forum), Bluetooth (Bluetooth Special Interest
Group), GPRS, dan kesepakatan standard 3G (3GPP). Kondisi ini dapat memacu kehadiran pihak
ketiga sebagai pengembang aplikasi internet bergerak maupun sebagai content developer.
Internet bergerak pada saat ini masih pada tahap awal perkenalannya, dan orang masih belum
begitu memahami bentuk sebenarnya. Perkembangan mobile internet pada dasarnya tergantung
dari 3 faktor utama:
a.  Ketersediaan aplikasi dan content
b.  Ketersediaan perangkat pendukung dengan harga terjangkau
c.   Kemudahan penggunaan dan kemampuan koneksi
Elemen penting yang akan menjadi kelebihan internet bergerak dibandingkan dengan internet
konvensional (fixed-internet) dan akan diterapkan pada aplikasi-aplikasinya adalah: [1]
a.  Personalisasi (personalization)
Personalisasi dari aplikasi wireless dibangun agar aplikasi menjadi user-centric dan location
centric sebagai kebalikan dari technology-centric, yang berarti ketika pengguna log-on ke internet
maka preference pengguna akan teraktivasi. Dengan preference tersebut aplikasi kemudian dapat
dikustomisasi sesuai dengan kebutuhan dari pengguna dan dapat disesuaikan pula dengan lokasi
yang diketahui dimana pengguna berada. Dengan aplikasi agent yang diinstall pada handset
(handset yang open-platform) maka agent akan dapat membantu mencarikan kebutuhan spesifik
pengguna sesuai dengan preference pengguna tersebut.
b.  Selalu online (allways online)
Kondisi selalu online adalah dampak dari penggunaan teknologi paket data (seperti GPRS) yang
menghilangkan prosedur dial-up untuk akses internet. Dengan selalu online maka hubungan
pengguna dengan server akan semakin dekat dan sekiranya ada event menarik pengguna akan
dapat seketika menerima notifikasi.
c.  Mobilitas pengguna (mobility)
Pengguna akan dapat menikmati aplikasi akses internet bergerak yang mudah digunakan namun
sangat powerful, dalam arti dengan usaha sedikit memberi hasil yang besar. Hal ini mendukung
mobilitas pengguna ketika menggunakan perangkat mobile-nya
4. Arsitektur Aplikasi Wireless
Sejak diperkenalkannya teknologi paket data di atas jaringan wireless (seperti GPRS),
memberikan banyak peluang baru kepada pengembang aplikasi maupun content developer untuk
mengembangkan berbagai aplikasi layanan komunikasi bergerak. Bagi para pengembang aplikasi,
yang sangat dibutuhkan sekarang adalah adanya kesepakatan mengenai arsitektur terbuka dan
tersedianya Application Programming Interfaces (API). 3G adalah teknologi yang dirumuskan
berdasarkan kesepakatan para ahli yang berkompeten di bidangnya. Organisasi International
Telecommunication Union (ITU) telah mengeluarkan rekomendasi sistem 3G yang tertuang
dalam International Mobile Telecommunications 2000 (IMT-2000). Rekomendasi tersebut
adalah:
a.  Quality of Service (QoS) yang dapat diperbandingkan dengan QoS dari jaringan PSTN
b. Pengembangan tahap pertama mendukung kecepatan transfer data hingga 2 Mbps
c. Kemampuan membangun terminal yang mendukung berbagai sistem, mulai dari sistem 2G
hingga standar terbaru
d. Ketersediaan arsitektur yang terbuka yang memungkinkan pengembang aplikasi dapat dengan
mudah membangun aplikasi yang bervariasi dan bermanfaat
Dunia telah mendapat pelajaran dari masa lalu dengan diterapkannya arsitektur pengembangan
teknologi dan aplikasi yang bersifat tertutup dan tidak fleksibel serta hanya memungkinkan
kesempatan untuk pengembangan teknologi yang bersangkutan. Arsitektur demikian
digambarkan bersifat vertikal seperti tergambar pada gambar 2.

Dengan arsitektur yang bersifat vertikal seperti di atas, pengembangan teknologi hanya dapat
dilakukan pada teknologi yang bersangkutan dan tidak dapat diterapkan (tidak compatible) pada
teknologi lain. Hal inilah yang menyebabkan teknologi dan aplikasi yang berkembang bersifat
vendor-technology oriented yang terutama terjadi di perusahaan besar yang ingin menciptakan
pasar sendiri terhadap pelanggan yang membutuhkan produknya. Sebagai contoh, di masa lalu
pelanggan dari jaringan CDMA tidak dapat mengakses SMS dari jaringan GSM, dan teknologi
paket data CDPD hanya dapat dijalankan di jaringan TDMA (D-AMPS), atau juga pelanggan
telepon fixed-line memiliki mesin penjawab yang berbeda dengan voice-mail yang terdapat pada
telepon seluler. Dengan model arsitektur demikian, pengembang aplikasi dari pihak ketiga juga
akan sangat sulit untuk berperan dan ikut bermain. Keterbatasan ini menjadi lebih terasa pada saat
sekarang dimana internet telah dikembangkan dengan arsitektur terbuka.
Dengan ditemukannya teknologi paket data, dunia industri telekomunikasi saat ini semakin
menyadari kebutuhan untuk menggerakkan para ahli dan pengembang aplikasi untuk segera
mengembangkan internet bergerak (mobile internet). Dari pelajaran arsitektur lama yang bersifat
tertutup, maka kunci dari langkah untuk mengawali gerakan ini adalah kebutuhan terhadap
arsitektur pengembangan yang bersifat terbuka dan fleksibel dioperasikan di berbagai teknologi
dan sistem jaringan wireless, tanpa mengesampingkan aspek keamanan dan kehandalan transfer
data. Untuk hal itu memang dibutuhkan kerjasama dan kesepakatan antar berbagai penyedia
jaringan. Dengan arsitektur terbuka, diharapkan akan dapat dikembangkan aplikasi multiplatform,
yang dapat menjangkau pelanggan dari berbagai sistem jaringan wireless yang ada.
Solusi untuk itu adalah arsitektur pengembangan yang bersifat horisontal dengan 3 layer utama,
yaitu layer applications, control, dan transport, seperti tergambar dalam gambar 3.

Arsitektur baru dikembangkan dengan sifat horisontal dan terdiri dari 3 layer utama, yaitu:
a. Layer Aplikasi, yaitu layer dimana aplikasi dan layanan komunikasi bergerak dikembangkan
dan dapat diakses oleh semua jaringan wireless  yang ada
b. Layer Control, yaitu layer yang menangani aspek intelligent dari jaringan wireless, seperti dial
setting, tracking mobiles, billing information management, dll.
c.  Layer Transport, yaitu layer yang menangani transfer data dimana proses yang terjadi seperti
routing, coding, dan switching menjamin transmisi data ke tujuan.
Dengan arsitektur baru di atas maka pengertian jaringan wireless tidak lagi dibedakan
berdasarkan perbedaan sistem dan teknologi (seperti GSM, CDMA, dll.) namun menjadi terbagi
atas dasar logika entitas fungsional. Ketiga layer di atas dioperasikan di atas interface yang
terbuka (disebut Application Programming Interfaces – API). Tersedianya API yang terbuka
membuat pengembang dari pihak ketiga tidak harus lagi memikirkan protokol telekomunikasi
yang akan menghubungkan aplikasi yang akan dibangunnya, namun mereka dapat lebih
berkonsentrasi pada kualitas, produksi, maupun distribusi dari aplikasi yang mereka bangun.
Dengan arsitektur baru tersebut maka akan muncul kesempatan baru bisnis bagi pihak ketiga
untuk bertindak sebagai Application Service Provider (ASP). ASP ini beroperasi hanya di layer
aplikasi dengan fungsi menyediakan aplikasi dan layanan komunikasi bergerak tanpa harus
memiliki dan mengoperasikan jaringan sendiri. Sebelumnya fungsi application service provider
dengan fungsi operator jaringan hanya bisa dijalankan oleh perusahaan penyedia jaringan.
Dengan semakin banyaknya pihak yang bermain dalam bisnis ini, maka pelanggan di pihak lain
akan semakin merasa diuntungkan karena akan semakin banyak tersedia aplikasi dengan berbagai
variasi dan harga yang kompetitif.

5. Arsitektur WAP (Wireless Aplication Protocol)
Wireless Application Protocol atau WAP telah menjadi standard internasional untuk
menampilkan internet bergerak pada perangkat seluler. WAP dihasilkan dari kesepakatan para
ahli dan vendor telekomunikasi terkemuka di dunia yang tergabung dalam WAP forum
(www.wapforum.com). WAP forum, yang terbentuk pada Juli 1997, dipelopori oleh Ericsson,
Motorola, Nokia, dan Phone.com dan hingga saat ini telah memiliki lebih dari 500 anggota. Versi
terakhir dari WAP yang telah dihasilkan forum ini adalah WAP 1.2.1. pada Juni 2000. Hingga
sekarang mereka masih mengerjakan WAP 2.0 yang berbasis pada XML dan XHTML. Dengan
diperkenalkannya teknologi paket data, diperkirakan internet bergerak menggunakan WAP akan
memiliki masa depan yang lebih menjanjikan dan dapat dimanfaatkan oleh penggunanya secara
luas.
WAP dirancang pertama kali sebagai protokol komunikasi bergerak yang tidak bergantung pada
perangkat dan sistem tertentu. WAP dirancang sebagai bagian dari sistem 3G di masa depan
seperti halnya Bluetooh dan GPRS. WAP merupakan protokol komunikasi bergerak yang terdiri
dari beberapa layer dan dapat dijalankan pada sistem jaringan apapun yang digunakan. Hal ini
seperti tergambar pada gambar 4.

WAP diciptakan sebagai protokol untuk komunikasi data jaringan wireless dengan latar belakang
3 pertimbangan, yaitu:
a. Kondisi pasar penguna, yaitu karakter pasar yang berbeda dengan pelanggan fixed-internet.
Dalam internet bergerak pengguna tidak akan melakukan surfing, dan penggunaannya akan lebih
user-centric dan situation-centric di mana informasi yang disediakan dapat lebih cepat dan tepat
ke sasaran.
b. Jaringan, yaitu karakter kecepatan data jaringan wireless yang rendah dan delay tinggi.
Jaringan wireless juga memiliki masalah dalam jangkauan, dan untuk itu dibutuhkan infrastruktur
dengan biaya tinggi untuk jangkauan hingga daerah-daerah di pedalaman.
c. Perangkat pendukung WAP, yaitu perangkat pendukung yang biasanya berkarakter tampilan
layar kecil, memori kapasitas kecil, dan kekuatan prosesor yang rendah.
5.1. Komponen Arsitektur WAP
Berbeda dengan fixed-internet (gambar 5), internet bergerak menggunakan WAP memiliki
arsitektur yang berbeda dengan node tambahan WAP Gateway (gambar 6). WAP Gateway
berfungsi sebagai semacam penerjemah informasi dari content-server sebelum diteruskan kepada
pengguna dengan perangkat bergeraknya.

Berikut ini keterangan komponen arsitektur WAP:
a. Mobile Client
Pada perangkat mobile pengguna (client) terdapat aplikasi micro browser yang memiliki
kesamaan fungsi seperti Internet Explorer atau Netscape Navigator seperti di PC. Micro browser
ini sering disebut sebagai user agent yang berfungsi untuk memanggil obyek (informasi) dari
server kemudian menampilkannya pada perangkat mobile. User agent ini bisa berbeda-beda
sesuai dengan rancangan dari vendor yang menciptakan perangkat yang bersangkutan.
b. WAP Gateway
WAP Gateway berfungsi sebagai penerjemah informasi dari content server untuk ditampilkan
pada perangkat mobile client serta sebaliknya. Mekanisme pekerjaan WAP Gateway seperti
tergambar pada gambar 7.

WAP Gateway juga dapat berfungsi sebagai proxy. Fungsi WAP Gateway/ Proxy antara lain
dapat dijabarkan sebagai berikut:
i. Sebagai interface penghubung WAP protokol dengan protokol internet
ii. Sebagai caches untuk header protokol yang memperkuat efisiensi transfer data
iii. Caching content untuk file overload dari application server
iv. Domain Name Server (DNS) dari client yang akan memetakan URL ke IP address tujuan
v. Sebagai security gateway dimana dilakukan autentikasi client/ pengguna sebagai subscriber
suatu layanan WAP
vi. Sebagai billing support yang menjadi tempat informasi mengenai client yang melakukan
pembayaran melalui mobile-commerce.
c. Content Server (WAP Server)
Content Server disebut juga WAP Server dan di masa-masa yang akan datang akan dapat disebut
pula sebagai Application Server pada saat nanti telah berkembang berbagai macam aplikasi yang
mendukung WAP. Pada WAP Server terdapat fungsi untuk menyediakan file bertipe WML dan
WML Script. Di server ini juga dapat dijalankan program servlets yang akan menambah
kemampuan aplikasi sebagai dynamic WAP-content. Bahasa pemrograman yang dapat dipakai
seperti Java, ASP, Perl, CGI, dll.
Mekanisme komunikasi data WAP dapat dijabarkan sebagai berikut: Client merequest WAP
melalui perangkat mobile-nya dengan mekanisme WSP GET-request. WAP Gateway akan
menerima request dalam WAP protokol dan mengirimkannya ke application-server menggunakan
standar protokol internet HTTP GET-request. Aplikasi kemudian mengirim kembali informasi
yang diminta (WML page) ke WAP Gateway yang kemudian mengirimkannya ke perangkat
mobile client menggunakan protokol WAP.
5.2. Layer Protokol
Protokol WAP terdiri atas 5 layer seperti tergambar pada gambar 8. WAP telah dijadikan standar
protokol internasional untuk transfer data internet bergerak dan dapat dioperasikan di atas semua
sistem jaringan wireless. Kelima layer protokol WAP tersebut adalah:
a. Wireless Application Environment (WAE), yaitu layer aplikasi dimana aplikasi WAP bekerja.
Layer ini mendukung 3 aplikasi, yaitu Wireless Markup Language (WML), WML-Script, dan
Wireless Telephony Application (WTA).
b. Wireless Session Protocol (WSP), yaitu layer session yang mengkontrol lalulintas aplikasi
sebelum sampai ke layer WAE.
c. Wireless Transaction Protocol (WTP), yaitu layer transaksi dimana dilakukan cek apakah data
berhasil dikirim atau belum dan melakukan pengiriman kembali sekiranya data tidak terkirim.
d. Wireless Transport Layer Security (WTLS), yaitu layer keamanan (security) dimana dilakukan
enkripsi data untuk pengiriman data sensitif yang tidak dapat diketahui oleh umum.
e. Wireless Datagram Protocol (WDP), yaitu layer transport yang merupakan interface protokol
aplikasi dengan bearer service (jaringan wireless). Layer ini melakukan kontrol transmisi data,
apakah menggunakan mekanisme UDP yang bersifat connectionless atau mobile IP yang bersifat
connection-oriented.

6. WAP dan Aplikasi Wireless Masa Depan
Hadirnya GPRS dan teknologi generasi 2,5 merupakan lompatan penting dari teknologi  wireless,
dan untuk melompat ke generasi 3 menjadi lebih mudah dengan beberapa penyesuaian. Pada saat
itu jaringan akan mencapai performansi sesuai dengan tujuan 3G, yaitu dalam hal efisiensi
jaringan, kecepatan transfer data yang meningkat, dan QoS yang semakin baik. Dengan
diperkenalkannya teknologi paket data di atas jaringan wireless maka akan membuka peluang
yang menjanjikan untuk para pengembang aplikasi mengembangkan aplikasi yang mendukung
kehadiran internet bergerak.
Di era 3G WAP akan semakin berperan penting sebagai protokol standar untuk mengoperasikan
internet bergerak. Peranan WAP di masa sekarang dan di era 3G dijabarkan dalam empat fungsi
berikut ini:
a. Pembawa data internet ke perangkat komunikasi bergerak (mobile device), yaitu peranan WAP
yang sejak semula memang ditujukan untuk mendefinisikan format isi data internet untuk
ditampilkan perangkat komunikasi bergerak
b. Efisiensi. Sebagaimana teknologi paket data yang dipakai pengguna untuk membawa data
internet sehingga pengguna tidak akan dibebani biaya koneksi telepon untuk akses internet
bergerak, maka penggunapun menginginkan efisiensi dalam transfer data internet dengan
kandungan data protokol yang sesedikit mungkin daripada data internet itu sendiri. Dengan
menggunakan binary encoding dari WSP, WAP meningkatkan efisiensi transmisi data melalui
jaringan wireless.
c. Tahan terhadap interupsi, yaitu protokol yang tahan terhadap gangguan koneksi yang pada
umumnya disebabkan oleh kelemahan jangkauan jaringan atau masuk ke area bayangan radio
(seperti lantai bawah tanah dan lift). Fasilitas suspend and resume pada WAP menjadikan WAP
protokol yang kuat (robust) dan mampu menahan session koneksi walaupun terjadi interupsi
koneksi yang panjang.
d. Integrasi telephony, yaitu protokol yang mampu mengintegrasikan bagian pengolah data dan
pengolah suara dari perangkat telepon seluler yang ada. Dengan fasilitas Wireless Telephony
Application, WAP akan menciptakan sinergi pada kedua fitur dasar dari semua telepon seluler
tersebut.
WAP sebagai protokol dalam bentuknya sekarang tentunya belum merupakan protokol yang
sempurna tanpa ada kekurangan. Namun WAP akan tetap memiliki masa depan menjanjikan
karena dukungan dari pihak-pihak yang sangat berkompeten dalam bidang telekomunikasi di
dunia yang tergabung dalam WAP-Forum

  1. Belum ada komentar.
  1. No trackbacks yet.

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: